Jumat, 09 Juni 2017

Pacaran dalam Agama Kristen

Gambar terkait
Sebenarnya istilah pacaran tidak pernah ada dalam Alkitab.  Namun tidak ada istilah tersebut bukan berarti kita tidak memiliki panduan akan bagaimana berpacaran yang benar itu. Alkitab dengan segala keagungannya mempunyai panduan yang dapat kita ikuti dalam berpacaran.
Pacaran, bagi orang Kristen adalah suatu masa perkenalan yang khusus antara dua pribadi yang dengan tujuan pernikahan (Susabda, Yakub, “Pastoral Konseling 2“, Gandum Mas, 2000).
Seperti apakah pacaran didalam Kristen?
1. Masa perkenalan secara khusus. 
Hubungan pacaran adalah hubungan yang khusus antara dua pribadi. Hubungan ini lebih dari sekedar pertemanan biasa dan karenanya ada ekslusifitas dalam berpacaran. Hubungan yang khusus ini menimbulkan keintiman. Keintiman, ekslusifitas melibatkan ikatan emosional antara kedua insan tersebut, karena itu hubungan pacaran tidak boleh dilakukan hanya untuk mengisi kekosongan atau hanya sekedar having fun.
2. Memiliki Tujuan khusus yaitu Pernikahan. 

Ini bukan berarti kita tidak boleh memutuskan hubungan pacaran, tetapi pacaran baru boleh dilakukan apabila kedua insan memang memikirkan pernikahan. Jadi apabila Anda mengenal seorang pria/wanita dan kemudian menyukainya, namun tidak ingin menikahinya, janganlah berpacaran dengannya, karena hubungan pacaran yang akan terjadi hanya merupakan pacaran kekanak-kanakan yang egois dan menimbulkan korban perasaan di kemudian hari. Hal ini bukan hal yang baik.
3. Komitmen dari dua orang yang ingin meningkatkan hubungan. 
Komitmen berarti tidak dibenarkan dijalankan dengan lebih dari 1 orang sekaligus. Barangsiapa melanggar komitmen dengan menjalani pacaran dengan lebih dari 1 orang harus dipertanyakan bagaimana komitmennya kelak apabila sudah menikah?
3. Sangat diperlukan suatu pernyataan cinta dari pihak pria dan jawaban dari pihak wanita untuk meresmikan hubungan khusus tersebut. 
Ini yang sering disebut dengan istilah “jadian”. Tidak ada aturan bahwa hanya pria yang boleh menyatakan, namun hal yang paling baik adalah sang pria yang menyatakan cinta kepada wanita dan bukan sebaliknya. Hal ini berhubungan dengan peran pria dalam pernikahan kelak sebagai kepala keluarga yang harus melindungi keluarganya.  Pemimpin dan pelindung, maka seharusnya si pria mempunyai keberanian untuk menyatakan cinta dan berani untuk menerima penolakan (apabila sang wanita mengatakan “tidak”).
4. Harus Saling Mengenal semua tentang pasangan masing-masing
Seperti mengenal karakter, sifat, tingkah laku, keluarga, teman-teman, hobi dan termasuk pengenalan kondisi fisik (mungkin punya kelemahan tubuh tertentu, mempunyai kelebihan fisik terentu). Namun bukan pengenalan anatomi tubuh pribadi. Pengenalan anatomi tubuh tidak membutuhkan waktu lama, pada hari pertama pernikahan semua keingintahuan kita akan lawan jenis sudah dapat terbuka dan diketahui semuanya. Dan anatomi tubuh yang paling pribadi itu sangat sakral sehingga terlarang untuk dikenal saat pacaran. Tubuh kita adalah bait Roh Kudus karena itu tidak boleh digunakan untuk memuaskan hawa nafsu sex sebelum waktunya.
5. Menjalani hubungan pacaran dengan lawan jenis yang seiman. 
Jangan pernah dengan alasan ingin mengInjili sehingga sang kekasih mau bertobat lalu mengijinkan pacaran dengan yang tidak seiman. Yang benar justru Injili dulu, kalau memang mau bertobat baru boleh menyatakan cinta.

0 Komentar:

Posting Komentar

Berlangganan Posting Komentar [Atom]

<< Beranda